Langsung ke konten utama

keterampilan berpikir kritis pada keperawatan


Peran Keterampilan Berpikir Kritis Dan Gaya Belajar Dalam Prestasi Akademik Mahasiswa

 
Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan skor mean yang sangat signifikan dalam empat gaya belajar, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menggunakan metode belajar konvergen memiliki kinerja yang lebih baik daripada kelompok lainnya. Gaya belajar juga memiliki hubungan dengan usia, jenis kelamin, bidang studi, semester dan pekerjaan, hesil dari pemikiran kritis mahasiswa menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan penalaran dedukatif dan evaluasi lebih tinggi daripada keterampilan analisis yang memiliki nilai terendah dan ada suatu hubungan positif yang sangat signifikan antara kinerja siswa dan keterampilan inferensial. Selanjutnya, keterampilan evaluasi dan penalaran dedukatif juga memiliki hubungan yang signifikan . di sisi lain, rata-rata total skor pemikiran kritis memiliki perbedaan yang signifikan antara gaya belajar yang berbeda.
. Menurut Chi-square (x2) p-value, ada hubungan yang signifikan antara gender dan gaya belajar (p = 0,032), sehingga hampir 50 persen pria memiliki gaya belajar mengasimilasi dan hampir 52 persen wanita memiliki gaya belajar konvergen Hubungan antara pekerjaan, jurusan dan semester belajar dengan gaya belajar signifikan pada nilai p 0,050, 0,006, 0,009 dan 0,001. Rata-rata dan standar deviasi kinerja akademis usia dan mahasiswa dalam empat gaya belajar dilaporkan pada Tabel 1. Dengan menggunakan analisis varian satu arah (one way ANOVA) dan membandingkan usia rata-rata empat kelompok, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara umur dan prestasi akademik dengan gaya belajar (p = 0,049). Mahasiswa dengan gaya belajar konvergen memiliki kinerja akademis yang lebih baik daripada mereka yang memiliki gaya belajar lainnya dan pada kinerja mereka dengan gaya belajar mengasimilasi yang paling lemah.


 Hasil analisis varians t-test dan one way ANOVA dilaporkan untuk menyelidiki hubungan antara masing-masing variabel dengan keterampilan di bawah rata-rata standar deviasi. Berdasarkan uji t dan ANOVA, nilai p t dan F, rata-rata skor total kemampuan berpikir kritis hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan mayor siswa (p = 0,020). Juga ditemukan hubungan yang signifikan antara siswa dan gender dengan keterampilan inferensi; semester belajar dengan ketrampilan penalaran deduktif, dan etnisitas dengan 2 keterampilan kesimpulan dan penalaran deduktif (p <0,05). Juga mengenai hubungan antara usia dan prestasi akademik siswa dengan masing-masing keterampilan berpikir kritis, hasil koefisien korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan namun hubungan negatif antara usia dan keterampilan analisis, yaitu dengan bertambahnya usia, skor analisis keterampilan dikurangi (p <0,05). Kinerja akademik siswa memiliki hubungan langsung yang signifikan dengan nilai total pemikiran kritis dan keterampilan inferensi; Semakin banyak skor, semakin baik kinerja akademik siswa (p <0,05).

Jadi, kesimpulannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa di universitas ini tidak dapat diterima. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa gaya belajar, pemikiran kritis, dan prestasi akademik saling terkait satu sama lain. Mengingat semakin pentingnya pemikiran kritis dalam meningkatkan kompetensi profesional individu, disarankan untuk menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan gaya belajar karena akan lebih efektif dalm konteks ini.











Perbandingan strategi pendidikan untuk perolehan kerja mahasiswa  keperawatan dan pemikiran kritis: pelatihan berbasis simulasi v. Pelatihan terpadu (simulasi dan strategi berpikir kritis)

Kemajuan teknis dan pengobatan dan perubahan cepat faktor politik, sosial dan budaya menunjukkan perlunya menggunakan strategi pelatihan aktif baru dalam pendidikan kedokteran dan keperawatan. Para siswa keperawatan harus dilatih secara aktif agar mereka dapat memahami situasi klinis secara tepat dan mendapatkan pembelajaran dalam konteks nyata. Deubel menyatakan bahwa penggunaan teori pendidikan dan penggunaan model pengajaran hanya sendiri tidak cukup untuk memajukan pembelajaran dan untuk merancang kursus aktif dan menciptakan landasan bagi peserta didik untuk berpikir, spektrum pendidikan dan model pengajaran harus diintegrasikan. Integrasi praktik-praktik ini seperti simulasi dan strategi berpikir kritis akan meningkatkan efektivitas program pelatihan dan akan membantu siswa mendapatkan ketrampilan keperawatan. Oleh karena hal itu, para peneliti ingin mengubah fokus pendidikan keperawatan dari suatu program pelatihan tradisional (berfokus kepada guru) menjadi metode aktif yang berpusat pada mahasiswa menjadi suatu kebutuhan dalam dunia pendidikan. Integrasi antara kedua teknik pembelajaran aktif ini akan meningkatkan ke efektifan program pelatihan ini. Tujuan dari pelatihan ini yaitu untuk membandingkan efek dari pelatihan terpadu (simulasi pelatihan berpikir kritis) dan pelatihan berbasis simulasi mengenai tingkat kinerja dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa keperawatan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimental yang dilakukan pada tahun 2014 kepada 40 mahasiswa yang sedang mempelajari prinsip keperawatan dan ke terampilan praktis pada tahun pertama akademik di Shiraz University of Medical Sciences. Siswa dibagi secara acakmenjadi suatu kelompok kontrol (n = 20) dan eksperimental (n=20).

Setelah melatih siswa melalui simulasi dan pembelajaran rpadu (simulasi dan strategi berpikir kritis). Kemampuan kinerja berpikir kritis mahasiswa di evaluasi melalui penggunaan California Critical Thinking Ability Questionnaire B (CCTST) dan objective structured clinical examination (OSCE) yang masing- masing terdiri dari 10 stasiun. Hal eksternal yang dapat diandalkan dari kuesioner critical thinking california yang dilaporkanoleh kasus B yaitu diantara 0,78 dan 0,80 dan validitas OSCE ini disetujui oleh 5 fakultas. Selanjutnya.,Dengan menggunakan metode Split Half (korelasi antara stasiun ganjil dan genap), reliabilitas uji disetujui dengan koefisien korelasi sebesar 0,66. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t dan uji Mann-Whitney dan tingkat signifikansi 0,05 dianggap signifikan secara statistik.

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah skor rata-rata tingkat kinerja kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata skor tingkat kinerja kelompok kontrol. Perbedaan ini signifikan secara statistik dan siswa dalam kelompok eksperimen di stasiun OSCE memiliki kinerja yang jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol (P <0,001). Namun, nilai rata-rata yang diperoleh untuk pemikiran kritis tidak meningkat sebelum dan sesudah intervensi. Hasil

Di antara 40 siswa keperawatan semester pertama yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 25 adalah perempuan (62,5%) sedangkan 15 laki-laki (37,5%). Ada 13 perempuan (65%) dan 7 siswa laki-laki (35%) dalam percobaan tersebut. Selain itu, ada 12 perempuan (60%) dan 8 siswa laki-laki (40%) di kelompok kontrol. Uji "Chi-kuadrat" menunjukkan bahwa subjek pada kelompok eksperimen dan kontrol homogen dalam hal seks. Usia rata-rata pada kelompok eksperimen (19,75 ± 1,16) dan pada kelompok kontrol (16,70 ± 1,16) tidak berbeda nyata (p = 0,909).

Kesimpulannya yaitu, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode pelatihan terpadu (simulasi dan strategi berpikir kritis) sebagai strategi pembelajaran aktif dan mahasiswa diarahkan untuk meningkatkan pembelajaran praktis mahasiswa di lingkungan yang aman dan terkendali. Pendekatan partisipatif ini adalah panduan pembelajaran yang mendalam bagi pelajar untuk berpikir keras dan mengeksplorasi pengetahuan, memecahkan masalah dan berpikir kritis.

Dinamika kelompok pada pengembangan debat kritis dan perendaman dalam siklus simulasi memungkinkan siswa untuk menggunakan berbagai sumber untuk memahami fungsi (kemampuan) dari prospek pekerjaan sambil mentransfer pengetahuan. Selain itu, pelatihan di lingkungan bebas stres dari pusat keterampilan klinis memungkinkan pelatih mengizinkan siswa memperoleh landasan teoritis dan penerapan praktis pengetahuan dan keterampilan memecahkan masalah lebih banyak. Dalam hal ini, direkomendasikan oleh peneliti untuk menggunakan praktik pengajaran terpadu dalam perencanaan pelatihan klinis untuk meningkatkan kinerja klinis siswa.

         Dari kedua penelitian ini dapat disimpulakan bahwa keterampilan berpikir kritis
pada mahasiswa masih sangat rendah dan diperlukan penanggulangan. Kemampuan berpikir
kritis perlu dikembangkan oleh mahasiswa sebagai upaya mempersiapkan diri untuk 
menghadapi tantangan dan permasalahan yang akan ditemui sekarang maupun nantinya. 
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa gaya belajar, pemikiran kritis, dan prestasi
akademik saling terkait satu sama lain.
 
 
 
 
 
 



REFERENSI



Ghazivakili, Z., et. Al (2014). The Role of Critical Thingking Skill and Learning Styles of University Students in Their Academic Performance.  Jurnal of advances in medical education & professionalism, 2(3), 95-102.



Zarifsanaiey, N., Amini, M., & Saadat, F. (2016). A Comparison of Educational Strategies for the Acquisition of Nursing Student’s performance and critical thinking: simulation-based training vs. Integrated training (simulation and critical thingking strategies). BMC Medical Education, 16(294), 1-7. DOI 10.1186/s12909-0812-0.  

Komentar